Breaking

Monday, July 29, 2019

Indahnya Pasir Putih Aikima di lembah Baliem



wistakul.com - Pasir putih yang unik karena Pasir Putih Aikima ini memiliki tekstur yang sama persis dengan pasir laut dan juga memiliki rasa asin seperti layaknya pasir yang ada di tepi-tepi laut. Banyak bebatuan raksasa yang dapat Anda jadikan sebagai objek foto yang menarik untuk hiasan media sosial Anda.

kurang lebih perjalanan 15 menit dari pusat kota Wamena (7 km dari desa Kerulu). Dapat menggunakan kendaraan umum, rental mobil, maupun taksi. Tidak terlalu familiar, Lembah Baliem telah menjadi destinasi wisata tersembunyi yang membentang di kawasan Pegunungan Jayawijaya.

Lembah yang sangat cantik ini merupakan kediaman bagi Suku Dani, salah satu suku asli Papua. Pertama kali mengunjungi tempat ini, sangat terheran – heran bagaimana mungkin pasir putih menghampar luas menutup perbukitan, biasanya pasir putih berada di tepi pantai. Bahkan, tak semua pantai memiliki pasir putih yang ada di lembah ini.

Butiran – butiran pasir ini bertekstur halus  menghampar diantara bebatuan cadas berwarna hitam. Berdiri di tempat ini, kita bisa melihat landscape lembah Baliem yang menghampar indah.


Semak belukar hijau yang memagarinya membuat warna pasir ini kian mencolok dan menakjubkan. Lantas dari manakah muasal pasir putih tersebut?

Kabarnya, pasir putih yang berada di pegunungan ini terjadi secara alami. Dahulu kala, tempat dimana pasir putih ini berada adalah sebuah danau yang bernama Danau Wio. Diduga, pasir putih yang kita lihat ini adalah sisa – sisa danau Wio.

Jika Anda tertarik untuk mengunjungi tempat ini, letaknya tak jauh dari pusat Kota Wamena. Diperlukan waktu sekitar 15 – 20 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor untuk sampai ke tempat ini, yakni di Desa Aikima, Kabupaten Jayawijaya.


Lembah Baliem diselubungi hamparan pasir putih yang menawan layaknya sebuah panta yang tiada noda. Terutama di sebuah kawasan pasir yang terhias dataran tinggi di Desa Aikima, Kabupaten Jayawijaya.


Jika danau surut maka di sulap berubah menjadi Lembah Baliem yang kita kenal saat ini. Dan dari sisa aliran air pada retakan di sekitar Danau Wio menjelma menjadi sebuah Sungai Baliem.

 

Festifal yang mendunia

 Festival Budaya Lembah Baliem, yang telah dilaksanakan sejak tahun 1989, telah memberi nilai positif bagi Papua karena acara ini tak sekadar menjadi sebuah ikon.

Ada beragam gelaran budaya yang selalu ditampilkan dan dilombakan setiap tahun saat acara ini berlangsung. Tentunya semuanya telah terkait dengan keragaman yang ada di Lembah Baliem ini.

Belum terlalu terlalu terkenal atau tahu tentang Lembah Baliem, dan sejarah yang mengiringinya.
Hal ini membuat dunia perlahan menjadi saksi masyarakat Pegunungan Tengah masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaannya, dan memiliki keterampilan untuk membangun kehidupannya sesuai dengan apa yang dimilikinya.

Contoh dari segi bentuk penghormatan kepada leluhur mereka adalah, mumi dari jenazah orang-orang yang telah memiliki jasa besar di Lembah Baliem. Proses mumi ini dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan alami.

Selain itu, ragam budaya tradisional di Lembah Baliem adalah perumahan tradisional (honai) : terbuat dari kayu dengan atap menyerupai sebuah kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai sengaja dibuat sedikit sempit atau kecil dan tidak berjendela yang berfungsi untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Pola kehidupan bermasyarakat, perkampungan yang masih sederhana, hingga eksotisme alam.

Berkunjung ke pasar-pasar tradisional juga direkomendasikan, bagi mereka yang ingin mendapatkan berbagai potret kehidupan serta kebiasaan warga masyarakat Pegunungan Tengah dalam bertransaksi hasil pertanian mereka.

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

No comments