Breaking

Saturday, August 17, 2019

Berbagai Tradisi Unik untuk Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia


wistakul.com - Peringatan Kemerdekaan RI selalu dilaksankan serentak pada 17 Agustus dan digelar dengan meriah. Ada banyak aktivitas yang dilaksanakan oleh masyarakat saat 17 Agustus. Banyak aktivitas yang diselenggarakan selama bertahun-tahun dan berubah menjadi sebuah tradisi. Setiap daerah juga memiliki cara yang berbeda untuk merayakan kemerdekaan. Dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa tradisi unik berdasarkan berbagai daerah Indonesia:


Festival Telok Abang


Masyarakat Palembang memiliki tradisi langka yang dilakukan untuk menyambut HUT RI berupa festival telok abang. Telok merupakan kata lain dari telor dan abang berarti warna merah. Oleh karena itu, festival ini juga sering dinamai dengan festival telur merah.

Menjelang HUT RI di sepanjang jalan kota Palembang akan banyak penjual yang menjajakan mobil, kapal dan pesawat berukuran mini berbahan dasar kayu dan gabus lengkap dengan telur berwarna merah yang tertancap di mainan mini tersebut. Harga mainan-mainan mini tersebut dibanderol mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 150.000.

Lari Obor Estafet


Tradisi lari obor estafet yang berasal dari Semarang merupakan tradisi 17 an di Indonesia yang tidak kalah serunya. Tradisi ini sudah ada sejak 32 tahun lalu dan masih terus ada hingga saat ini. Lomba ini dilakukan pada malam hari dengan membawa sebuah obor yang menyala dan secara estafet diulurkan kepada rekannya hingga mencapai garis finish. Api yang menyala di atas obor merupakan simbol dari semangat dan keberanian para pahlawan berjuang merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

Tradisi Baritan


Berbeda dengan beberapa tradisi unik yang dilakukan masyarakat Indonesia sebelumnya, tradisi baritan dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Masyarakat kota Malang akan melakukan baritan sebelum tanggal 17 Agustus dengan berkumpul di salah satu rumah warga. Di tengah-tengah perkumpulan tersebut terdapat berbagai jenis makanan dan juga tumpeng yang kemudian akan dibagikan pada akhir acara. Selain sebagai bentuk rasa syukur, tradisi Baritan dilakukan untuk mempererat tali silaturahmi antar warga.

Sepak Bola Durian


Buah durian merupakan salah satu buah yang banyak disukai karena cita rasanya yang legit, akan tetapi kebanyakan orang tersebut tidak menyukai kulit duren yang berbentuk tajam sehingga langsung membuangnya seusai memakan buahnya. Di Cirebon, kulit durian yang biasanya dibuang dimanfaatkan sebagai alat di salah satu perlombaan menyambut perayaan hari kemerdekaan. Adalah sepak bola durian, tradisi perlombaan rutin masyarakat Cirebon yang beranggotakan forum spiritual dan laskar densus 99.

Sebelum perlombaan dimulai akan ada seorang ustadz yang memanjatkan doa untuk keselamatan para pemain sepak bola durian. Para peserta pun dapat bermain dengan selamat dan terhindar dari kecelakaan yaitu sakit karena menendang bola durian. Pengalaman menendang buah durian yang dihindari oleh kebanyakan orang patut diapresiasi. Jika ingin merasakan sensasi yang sama, cobalah untuk berkunjung ke Cirebon saat HUT RI dan rasakan pengalaman luar biasa menendang buah durian.

Pacuan Kuda di Tanah Gayo


Kota dengan julukan Serambi Mekah memiliki tradisi unik menyambut hari kemerdekaan dengan mempertontonkan penunggang kuda handal berpacu dalam sebuah ajang balap. Bagi masyarakat Aceh, balap kuda atau pacu kuda merupakan warisan yang sangat kental. Akan ganjil rasanya jika menyambut hari kemerdekaan Indonesia tanpa menyelenggarakan tradisi ini.

Yang cukup unik dari tradisi pacu kuda ini adalah para peserta dilarang menggunakan pelana saat menunggangi kuda. Mereka pun dituntut untuk terus menjaga keseimbangan dan tidak jatuh dari atas kuda hingga garis finish tanpa menggunakan pelana. Peserta lomba terdiri dari laki-laki berusia 12 sampai 20 tahun. Demi menjaga keamanan, lomba ini tidak mengikut sertakan perempuan sebagai pesertanya

Lomba Dayung Perahu Naga


Tradisi lomba dayung perahu naga selalu diselenggarakan oleh masyarakat Banjarmasin di sungai Martapura dalam rangka menyambut HUT RI. Pelaksanaan lomba ini terbilang cukup keren karena karena setiap perahu memiliki kepala naga sebagai ujung depannya. Perahu tersebut akan didayung oleh 10 peserta dalam 1 kelompok untuk menempuh jarak sejauh 500 meter.

Antusiasme warga biasanya akan sangat tinggi untuk menyambut hadiah yang cukup menggiurkan berupa piala bergilir Gubernur Kalimantan Selatan dan uang tunai. Kurang lebih ada 30 tim yang memperebutkan piala kategori umum dan pelajar. Lomba ini biasa digelar pada 16-17 Agustus setiap tahunnya.

Lomba Sampan Layar


Kemeriahan menyambut 17 Agustus di Batam disambut dengan lomba sampan layar yang digelar di dekat tepi pantai. Tradisi ini sudah turun menurun ada sejak 1959 dan selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya.

Dari tahun ke tahun, tradisi lomba sampan layar semakin eksis hingga menyerap banyak animo masyarakat. Setiap perlombaan sampan layar diadakan, pelabuhan akan penuh sesak dengan pengunjung yang ingin menyaksikan perlombaan berlangsung. Diselenggarakannya perlombaan inipun mampu mempererat hubungan antar masyarakat setempat.

Tradisi Bola Api


Sepak bola api merupakan tradisi menyambut HUT RI yang berasal dari kota Cirebon. Meskipun terdengar seram, tradisi ini menarik banyak perhatian dan masih terus dilestarikan hingga sekarang. Yang membedakan olahraga bola api dengan sepak bola pada umumnya hanyalah dari bola api yang digunakan.

Konon sebelum mengikuti permainan ini, para permain diharuskan berpuasa selama 21 hari terlebih dahulu agar dapat bermain bola api dengan kaki telanjang. Tradisi bola api berawal dari Pesantren Babakan Ciwaringin dan kemudian melebar luas dan eksis sebagai salah satu tradisi yang dikakukan masyarakat Cirebon dalam menyambut peringatan hari kemerdekaan.

Karapan Kambing


Jika biasanya manusia yang menjadi peserta lomba dalam rangka menyambut kemeriahan HUT RI, di Lumajang kambinglah yang menjadi pesertanya. Tradisi ini merupakan lomba adu cepat kambing satu dengan kambing lainnya yang dimiliki oleh peternak.

Tidak hanya itu, peternak/pemilik kambing juga diwajibkan untuk membunyikan kaleng bekas sebagai bentuk support agar kambing menjadi lebih aktif dan cepat mencapai garis finish. Tidak sembarang kambing, kambing-kambing yang mengikuti perlombaan ini merupakan kambing yang memiliki kecepatan lari luas biasa. Pada akhirnya kambing-kambing ini menjadi cermin keperkasaan para pahlawan dalam berjuang untuk merebut kemerdekaan RI.



Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

No comments